Sunday, 6 August 2017

Siege and Storm


Judul : Siege and Storm (The Grisha #2)
Penulis : Leigh Bardugo
Tebal : 381 halaman
Penerbit : Indigo

Alina thought she could run from her past and escape her destiny. She can't.

Mal hoped he'd done enough to protect the girl he loved. He hadn't.

The Darkling, more powerful than before, is hungry for revenge. He needs Alina.

Soon Alina must choose between her country, her power, and the man she loves -- or risk losing everything to the oncoming storm.


Review:
Buku kedua ini langsung melanjutkan dari akhir buku pertama, di mana Alina dan Mal kabur dari Darkling ke arah barat. Tapi siapa sih yang bisa mengalahkan Darkling? Dia imortal, kuat, dan berani membunuh. Alina dan Mal masih terlalu muda untuk bisa sepercaya diri itu.

Jadi, seperti yang terduga, Darkling berhasil mengejar mereka. Dia menyandera Alina dan menjadikan Mal sebagai tahanan untuk dibunuh karena Darkling tahu perasaan Alina kepada cowok itu. Mereka berlayar di kapal untuk mencari Amplifier yang kedua. Alina sudah punya satu. Darkling tidak akan berhenti sampai mereka punya tiga dan lalu dia bisa mengontrol Alina serta menggunakan kekuatan cahayanya. 

Tapi ternyata bajak laut yang menyewakan kapal itu kepada Darkling berkhianat. Dia menyelamatkan Alina dan Mal. Oh, saya suka sekali bajak laut satu ini. Smart mouth banget dan saya selalu suka tokoh seperti itu. Dan ternyata si bajak laut ini adalah Nikolai Lantsov, putra haram dari raja. 

Nikolai ingin Alina menjadi pendukungnya. Dia merasa jauh lebih pintar dari kakaknya yang adalah putra mahkota. Dia punya banyak uang, hasil dari bisnisnya sebagai bajak laut. Dia juga seorang jenius yang berhasil mendesain kapal terbang yang dikendalikan oleh para Grisha. Tapi karena dia anak haram, dia kurang dipercaya. Di sisi lain, Alina bisa menjadi asetnya. Sebagai Sun Summoner dan santa pelindung, Alina punya kekuatan persuasif dari para penggemar fanatiknya. 

Mereka semua kembali ke istana. Dengan ancaman Darkling di luar sana, kerajaan tidak lagi percaya pada para Grisha. Para Grisha istana dilupakan dan dibiarkan begitu saja di salah satu bagian istana. Bahkan beberapa dari mereka ada yang ditangkap karena dianggap sebagai pengikut Darkling.

Saya tidak akan membeberkan lebih banyak dari itu karena apa asyiknya membaca spoiler? Kayak saya nggak pernah dan nggak suka saja. Intinya, kesan yang saya dapat di buku ini adalah cerita yang lebih menonjolkan karakternya, terutama Alina. Character-driven gitu. Sayangnya, Alina terlalu normal untuk membuat ceritanya jadi lebih menarik. Untungnya, ada Nikolai yang sumpah lucu dan charming banget. Dia menjadi salah satu cowok yang mengincar Alina karena membutuhkan kekuatan dan pengaruh gadis itu. Bukan benar-benar love interest. Tapi dia karakter yang sangat menonjol.

Dan itulah yang membuat Mal tenggelam. Dia tidak suka kehidupan di istana, apalagi menjadi pengawal utama Alina. Semacam masalah harga diri. Sahabat tapi sekarang statusnya berbeda. Belum lagi sikap Nikolai yang seakan sudah yakin Alina akan setuju mendukungnya. Mal berubah menjadi cowok emosional karena takut kehilangan Alina. Dia berkelahi dengan para Grisha untuk melatih kemampuannya sekaligus ingin menjadi lebih berguna di mata Alina. Banyak yang tidak suka Mal karena ini. Tapi saya mengerti dan malah cukup bersimpati padanya. Walaupun saya tetap tidak suka bagaimana Alina dan Mal kurang banyak berkomunikasi sepanjang buku ini. Mereka seakan tidak percaya satu sama lain, padahal mereka kan bersahabat. 

Lalu ada Darkling. Fans dia banyak, lho. Tapi entah kenapa saya tetap tidak merasakan koneksi ataupun simpati sama sekali ke tokoh itu. Tentu saja dia love interest lain untuk Alina yang menurut saya terlalu dipaksakan. Sepanjang saya membaca buku ini, saya gagal menangkap alasan kenapa Alina bahkan tertarik sama si Darkling. Mungkin karena sama-sama punya kekuatan yang beda dari orang lain. Hanya ada satu Darkling dan hanya ada satu Alina. Tapi saya agak cringe saat ilusi Darkling muncul dan menggoda si Alina. Ugh.

Saya tetap lebih suka Alina bersama Mal. Hubungan persahabatan dan rasa sayang mereka jauh lebih masuk akal. Dan entah kenapa saya merasa penulis juga berencana mengarah ke sana. Gara-gara prolog dan epilognya mungkin. Saya suka prolog dan epilog seri ini, soalnya kayak dongeng. 

Yah, ceritanya bagus. Cuma plotnya lambat sekali. Banyak karakter yang kurang digali. Padahal dengan kecepatan plot seperti itu, karakter pembantunya bisa lebih ditonjolkan dan tidak hanya sekadar tempelan. 

Satu buku lagi, lalalala....

3/5

No comments:

Post a Comment